pook !!”, sebuah tepukan kencang mendarat di pantat kananku.
“awwhh,,sakit tau Nov,,!!”, kataku sambil mengelus-elus pantat kananku yang agak perih karena Novi menepuk pantatku cukup kencang.
“pantat lo montok banget sih May,,hehehe,,”.
“montokan juga pantat lo”, aku pun membalas Novi dengan menepuk pantatnya dengan agak kencang juga. Kami jadi saling tampar-tamparan pantat hingga pantat kami menjadi sedikit merah.
“aduh…lama-lama perih juga nih, lo sih Nov, pake mukul pantat gue!”, omelku.
“hehe,,iya,,maap,,kalo gitu mandi aja yuk,,udah lama nih gak mandi bareng,,”.
“oh iya ya,,udah lama juga gak mandi bareng,,yuk,,”.
Kami langsung masuk ke dalam kamar mandi karena kami sudah bugil sehabis saling menjilati vag|na. Aku dan Novi berdiri di bawah pancuran lalu aku memutar kran sehingga tubuhku dan tubuh Novi langsung basah terguyur air yang keluar dari pancuran. Aku dan Novi saling berpelukan, payudara dan puting kami yang saling menempel dan sedikit bergesekan memberikan sensasi tersendiri. Tangan Novi sudah berada di pantatku, Novi pun langsung meremas-remas pantatku. Aku tidak mau kalah, kuremas-remas juga pantat Novi yang menggemaskan. Aku mendekatkan bibirku ke bibir Novi, kedatangan bibirku langsung disambut baik oleh Novi sehingga kami berdua mulai bercumbu. Kami mulai dengan ciuman ringan dulu, aku mengecup bibir atas dan bibir bawah Novi berulang kali, dia membalasku dengan melakukan hal yang sama. Kami berdua menjadi bernafsu sehingga sekarang kami berdua saling bergantian melumat bibir. Tentu saja, lidah kami berdua sudah saling membelit satu sama lain. Ide muncul di kepalaku, aku menyelipkan jari telunjuk tangan kiriku ke belahan pantat Novi untuk digosok-gosokkan di lubang anus Novi. Novi sedikit tersentak kaget ketika jari telunjukku mengenai lubang anusnya. Aku gosok-gosok lubang anusnya dengan jari telunjukku, setelah itu aku masukkan jari telunjukku ke dalam anusnya dan mulai menggerakkan jariku keluar masuk lubang anus Novi. Namanya juga Novi, dia tidak mau kalah sehingga dia melakukan hal yang sama. Suasana semakin memanas, nafsu kami mulai naik sehingga membuat kami sangat bergairah untuk saling melumat bibir satu sama lain. Ketika sedang hot-hotnya, pintu kamar mandi terbuka.
“lagi mandi bareng ya?”. Spontan, aku dan Novi menoleh ke arah pintu.
“Nita,,kirain siapa?”, ujar Novi.
“ayo sini Nit, mandi bertiga yuk!”.
“ayo, siapa takut?”. Nita langsung melucuti pakaiannya hingga tubuh indahnya tidak tertutup apa-apa lagi.
“sini, pendatang baru musti di tengah, biar bisa dikerjain!”, kataku.
“iya deh iya…terserah apa kata yang punya rumah aja”, jawab Nita.
Aku langsung mengambil sedikit jarak dari Novi lalu Nita berdiri di antara Novi dan aku. Aku dan Novi langsung merapat ke Nita yang menghadap ke arahku. Aku dan Novi melumuri tangan serta payudara kami dengan sabun. Novi mulai menggosok punggung Nita dengan menggunakan payudaranya sebagai penggosok. Novi menggerakkan tubuhnya ke atas dan ke bawah berulang kali sambil mendesah karena kedua putingnya yang sensitif bergesekkan dengan kulit punggung Nita terus menerus. Sementara aku menggunakan kedua buah payudaraku untuk menggosok tubuh Nita bagian depan. Aku sengaja menggosok perut Nita terlebih dulu, setelah itu barulah payudaraku dan payudara Nita yang sudah lama berteman akhirnya bertemu. Aku sedikit menggoyangkan payudaraku ke kanan dan ke kiri sehingga puting kami yang sensitif saling bergesekan.
“nnnggghhh!!”, lirih pelan keluar dari mulut kami bertiga karena masing-masing dari kami bertiga sedang merasakan sensasi yang muncul dari tergesek-geseknya puting kami.
Lalu aku dan Novi berhenti menggosok tubuh Nita dengan payudara kami. Aku meraih pantat Nita dan mulai memoles pantat Nita dengan tanganku yang berlumuran sabun. Novi menggerakkan tangannya melewati pinggang Nita dan memberhentikan tangannya di selangkangan Nita. Tangan Novi yang lembut membelai selangkangan Nita dengan perlahan dan lemah lembut membuat Nita membuka mulutnya tapi tidak mengeluarkan suara. Aku kasian melihat Nita megap-megap jadi aku gunakan bibirku untuk menambal mulut Nita yang terbuka. Bibirku benar-benar dilumat habis-habisan oleh Nita, mungkin karena nafsunya yang sedang memuncak.
“ccllkk,,ccllkk,,”, aku mendengar suara jari Novi yang berlumuran sabun sedang keluar masuk lubang vag|na Nita.
“pantes aja, si Nita nyipok gue semangat banget,,ternyata lagi,,diobok-obok ama Novi toh,,”, kataku dalam hati.
“ikutan ngobok-ngobok Nita ah!”, pikirku.
Aku pun mulai memasukkan jari telunjukku tangan kananku ke dalam anus Nita seperti cacing yang sedang menggali tanah, menggeliat kesana kemari hingga akhirnya jariku itu sudah tertanam di dalam anus Nita.
Nita semakin ganas dan liar melumat bibirku karena kini, dia benar-benar sedang terangsang berat. Saat sedang asik-asiknya mengaduk-aduk lubang anus Nita dengan jari telunjukku, tiba-tiba jari tengah tangan kanan Novi yang tadinya dia gunakan untuk memainkan klitoris Nita sudah bersarang di dalam vag|naku. Tanpa basa-basi dan tanpa permisi, Novi mengocok vag|naku membuat aku jadi bernafsu sehingga percumbuan antara aku dengan Nita menjadi sangat bergairah daripada sebelumnya.
“huu…dasar, rasain nih Nov”. Aku menancapkan jari tengah tangan kiriku untuk mengaduk-aduk liang vag|na Novi.
“mmmhh,,uummhhh,,”, bunyi dari alunan hati Novi yang benar-benar sedang keenakan sementara aku dan Nita tidak bisa mendesah karena bibir kami berdua masih menempel dengan erat. Nita melepaskan cumbuannya setelah dia dan aku sudah puas saling mengulum dan mengemut bibir. Kini, kamar mandiku sangat berisik karena desahan kami bertiga bersusul-susulan. Padahal, Nita yang lebih dulu diobok-obok, tapi Nita mampu menahan orgasmenya hingga orgasme bersamaan denganku dan Novi. Aku menaruh tanganku di punggung Novi untuk memeluk Nita dan Novi sekaligus, Novi juga melakukan hal yang sama sehingga Nita terhimpit di tengah. Meskipun diguyur air dari pancuran, tapi tubuh kami terasa panas karena ledakan orgasme yang baru saja kami bertiga alami dalam waktu yang bersamaan.
“nah,,sekarang lo Nov,,gantian,,”.
“eit,,bentar dulu,,kan vag|na lo belom dijilat,,”.
“oh iya ya,,”, kataku. Aku dan Novi langsung berjongkok sementara Nita tetap berdiri. Lidahku menyapu belahan bibir vag|na Nita yang masih tertutup dan kadang-kadang aku menyedot klitoris Nita hingga Nita menggeliat sambil mendesah. Novi membenamkan wajahnya ke pantat Nita. Nita melebarkan kakinya lebih lebar lagi sehingga aku dan Novi bisa lebih leluasa menikmati tubuh bagian bawah dari Nita. Kadang-kadang aku dan Novi berciuman di antara selangkangan Nita. Dalam waktu 5 menit, Nita mencapai puncak kenikmatannya, cairannya langsung menyemprot ke wajahku, aku membuka mulutku untuk meminum cairan Nita, tapi wajahku sudah basah terkena cairan vag|na Nita. Lalu aku mengais sisa cairan yang masih tersisa di liang vag|na Nita. Nita menekan kepalaku ke arah vag|nanya, aku semakin semangat mengobok-obok vag|na Nita dengan lidahku. Tapi, aku tidak menelan cairan vag|na Nita melainkan hanya menampungnya di mulutku. Meskipun, aku sangat tergoda untuk menelan cairan Nita yang terasa manis, asin, dan sekaligus gurih di mulutku, namun aku tidak menelannya karena aku ingin berbagi dengan Novi. Aku mentransfer cairan Nita ke Novi melalui mulut. Novi pun dengan semangat meminta cairan Nita sehingga sekarang kami berdua malah berebutan menelan cairan Nita. Kami terus bercumbu dengan sangat bergairah di bawah selangkangan Nita, setelah 3 menit, aku dan Novi selesai saling berbagi.
“ayo Nov, giliran lo di tengah!!”
“okeh,,okeh,,”. Kini, Novi yang akan ‘dimandikan’ olehku dan Nita.
“Nov,,lo ngadepnya ke Nita dulu,,”.
“okeh,,May,,”.
Setelah Novi mendapat perlakuan yang sama seperti Nita, kini giliranku. Aku menghadap ke Novi. Aku sudah selesai dimandikan hingga aku orgasme 2 kali, tapi Novi memutar tubuhku sehingga Nita yang sekarang berhadapan dengan vag|naku. vag|na dan lubang pantatku dijilat lagi untuk kedua kalinya.
“aduhh,,udahh,,donghh,,”, aku berusaha berbicara di tengah-tengah kenikmatan yang kudapat dari jilatan Nita di vag|naku dan jilatan Novi di pantatku.
Mereka berdua terus menjilati bagian bawah tubuhku hingga aku orgasme. Tiba-tiba, ada seseorang yang masuk ke dalam kamar mandi.
“boleh ikutan gak?”.
“eh…Pak Joko, boleh Pak…sini Pak!”.
Pak Joko melucuti pakaiannya sendiri hingga dia telanjang. Novi dan Nita menarik Pak Joko ke bawah pancuran. Nita dan Novi mengapit Pak Joko di samping kanan dan kirinya sementara aku sudah bersimpuh di depan Pak Joko.
“ayo Maya sayang, tolong bersihin tongkol bapak ya ampe bersih!”.
“beres pak, pokoknya tongkol bapak bakal kinclong deh!”, kataku lalu aku mengecup kepala pen|s Pak Joko dengan sangat mesra. Aku ciumi kepala pen|s Pak Joko berulang kali, lalu aku menciumi batang pen|snya juga hingga ke pangkal pen|snya.
“kok cuma dicium aja?”, tanya Pak Joko sambil terus mengobok-obok vag|na Nita dan Novi dengan kedua tangannya.
“kan Maya sayang banget ama tongkolnya Pak Joko, emang Pak Joko udah bosen ya tongkolnya disayang ama Maya?”, tanyaku.
“gak kok, tongkol bapak gak pernah bosen pacaran ama Maya sayang”.
“nah, makanya Pak Joko sabar aja!”.
“oh ya udah kalo gitu, terserah Maya sayang aja deh,,”.
“nah, itu baru Pak Joko Maya,,”.
Aku melanjutkan menciumi pen|s Pak Joko yang sudah seperti kunci dari vag|naku karena liang vag|naku sudah terlalu sering menjepit pen|s Pak Joko. Setelah menciumi pen|s Pak Joko, aku mulai membersihkan semua kuman yang ada di pen|s Pak Joko dengan mulutku. Aku emut-emut topi baja merah muda itu sambil terus menggelitik lubang kencingnya dengan lidahku. Pak Joko mendesah keenakan, aku jadi semakin bersemangat menjilati pen|s Pak Joko. Aku gerakkan lidahku mengitari diameter pen|s Pak Joko hingga ke pangkalnya. Lalu aku jilati seluruh senti pen|s Pak Joko sampai ke kantung buah zakar Pak Joko. Aku gigit ujung kepala pen|s Pak Joko dengan lembut sambil ‘menelan’ pen|s Pak Joko.
“terusshh…Maya sayanghh!!”.
“ooohhh,,!!”, erang Novi dan Nita berbarengan karena sepertinya mereka orgasme.
“ayo Nov…Nit, bantuin gue bersihin nih tongkol Pak Joko kita tersayang,,”.
“oke!!”, jawab mereka berdua.
Nita langsung jongkok di sampingku, sementara Novi bergerak ke belakang Pak Joko. Novi jongkok di antara kedua paha Pak Joko. Aku dan Nita mengurusi bagian batang pen|s Pak Joko, sedangkan Novi mengurusi ‘telur’ Pak Joko dengan sangat baik. Aku dan Nita bergantian menjilati batang pen|s Pak Joko. Pak Joko tidak kuat menahan orgasmenya lama-lama karena pen|snya dikeroyok 3 gadis yang sudah lihai memanjakan pen|s lelaki. Sperma Pak Joko pun terbuang percuma.
“kalian curang, maen keroyokan,,”.
“kan biar tongkol Pak Joko bersih,,”, ujarku.
“tapi enak kan Pak?”, tanya Nita.
“ya sih,,hehe,,si neng Novi,,ngapain di situ? gak bau?”.
“gak kok Pak,,”.
“semuanya, keluar yuk,,dingin juga lama-lama”, ajakku.
“ayo!!”.
Kami berempat keluar dari kamar mandi, ternyata diluar ada 2 orang laki-laki lain. 2 orang itu adalah Pak Dino dan Pak Yahya. Mereka berdua langsung mendekati cewek favorit mereka masing-masing. Pak Dino memeluk Nita dari belakang sementara Pak Yahya memeluk Novi dari belakang. Pak Dino dan Pak Yahya mulai memainkan vag|na cewek favorit mereka tanpa minta izin terlebih dulu. Pak Joko ikut-ikutan memelukku dari belakang dan mulai memainkan vag|naku juga sehingga aku, Novi, dan Nita mendesah bersahut-sahutan dan kadang kami kompak mendesah bagai paduan suara. Kami bertiga akhirnya orgasme hampir bersamaan.
“aduh,,maen obok-obok aja nih”, protes Nita.
“iya nih,,kan lemes tau”, tambah Novi.
“abisnya kangen ama memiaw Nita sayang sih”, jawab Pak Dino.
“kalo bapak,,tangan bapak gerak sendiri pas ngeliat memiaw Novi sayang,,hehe”, jawab Pak Yahya.
“Pak Joko, Pak Dino, ama Pak Yahya, ada apa dateng ke sini tiba-tiba? biasanya telpon dulu?”, tanyaku.
kita betiga mau balapan nih,”, jawab Pak Joko sambil meremasi payudaraku.
“lah,,mau balapan tapi kok ke rumah Maya?”, tanyaku lagi.
“kan kendaraannya ada di sini,,”, jawab Pak Dino.
“kendaraan apa? jadi bingung nih?”, Novi kebingungan.
“kendaraannya ya kalian betiga,,”, jawab Pak Yahya.
“iya, nih kuncinya,,”, kata Pak Joko menunjuk ke pen|snya.
“oh, mau balapan yang itu,,”, Novi akhirnya mengerti.
“ya udah,,Pak Dino ama Pak Yahya buka celananya dong,,katanya mau balapan?”, ujar Nita yang sedang mengelus-elus pen|s Pak Dino yang masih terbungkus celana.
“itu mah,,gak usah disuruh,,”. Pak Dino dan Pak Yahya melepas pelukan mereka dan mulai melucuti pakaian mereka sendiri. Aku, Novi, dan Nita kompak langsung jongkok di hadapan 3 bapak-bapak itu.
“pada mau ngapain?”, tanya Pak Joko.
“kan biasanya sebelum balapan dikasih pelumas dulu supaya ntar gak macet,,”.
“oh iya,,bener juga,,kalian betiga udah cantik, sexy, baik, ‘n pinter juga,,”, puji Pak Yahya.
“iya,,kita beruntung banget,,bisa kenal ama kalian betiga,,”, tambah Pak Dino.
“ah,,Pak Yahya ama Pak Dino bisa aja,,”, kataku sambil menciumi kepala pen|s dan batang pen|s Pak Joko yang sudah kembali segar.
“daripada ngegombal terus,,mendingan Pak Dino kasih kuncinya biar Nita bisa kasih pelumas,,”.
“okehh,,kasih pelumasnya yang banyak ya Nita sayang,,”, kata Pak Dino yang menyodorkan pen|snya ke mulut Nita.
“beres Pak Dino,,”.
“ayo Novi sayang,,tongkol bapak dikasih pelumas juga yang banyak ya,,”.
“gak mau,,”.
“yah,,kok gak mau?”.
“cuma becanda Pak,,tenang aja,,Novi bakal ngelumasin tongkol bapak ampe licin banget,,”.
“nah,,itu baru Novinya bapak,,”, kata Pak Yahya mengelus-elus kepala Novi. Aku, Nita, dan Novi pun mulai ‘berkaraoke’ dengan mic yang berbeda. Kini, giliran 3 bapak-bapak itu yang mendesah bersahut-sahutan seperti kami tadi. Setelah 5 menit, kami bertiga selesai memberikan pelumas alias air liur ke 3 pen|s yang ada di hadapan kami. Aku, Nita, dan Novi berdiri lalu membalikkan tubuh kami sehingga membelakangi 3 bapak-bapak yang pen|snya sudah mengacung tegak.
“udah pada minum obat belum?”, tanya Pak Yahya.
“belom,,”. Kami meminum obat anti hamil milik kami.
“nah sekarang udah siap,,ayo start the engine!”
Pak Yahya sudah menancap Novi, Pak Dino sudah mencoblos Nita, dan Pak Joko juga sudah menanamkan pen|snya ke dalam vag|naku. Pak Joko menarik kedua tanganku ke belakang sehingga kedua tanganku seperti stang motor saja. Novi dan Nita juga diperlakukan sama sepertiku.
“ayo berangkat!!”, teriak Pak Joko.
Aku mutar-mutar mengelilingi kamar dengan pen|s Pak Joko tertanam di dalam vag|naku sementara Novi dan Nita diajak keluar kamar oleh Pak Yahya dan Pak Dino. Kadang, Pak Joko berhenti mengajakku berjalan agar bisa menggenjot vag|naku, tapi setelah itu Pak Joko mengajakku berjalan lagi. Dan kadang, aku dipertemukan dengan Novi atau Nita hanya untuk sekedar berciuman saja. Pak Yahya ‘mengendarai’ Novi kembali ke kamarku dan ‘memarkir’ Novi di depanku sehingga aku dan Novi bisa berciuman. Tak lama kemudian, Pak Dino muncul dan ‘memacu’ Nita dan memposisikan Nita di dekatku dan Novi sehingga sekarang aku bisa berciuman dengan Novi ataupun Nita. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Pak Joko, Pak Dino, dan Pak Yahya mencapai puncaknya. Aku, Nita, dan Novi tidur bertiga di atas ranjangku.
“gimana Pak,,balapannya tadi?”, tanyaku.
“itu balapan yang paling seru,,”, kata Pak Joko.
“jadi pengen balapan lagi,,”, ujar Pak Yahya.
“yaudah,,Pak Yahya ama Pak Dino nginep aja,,”.
“lho? emangnya orangtua neng Maya gak pulang?”, tanya Pak Dino.
“pulangnya masih seminggu lagi,,”.
“berarti bapak bisa lepas kangen ma Novi sayang ampe puas dong,,asik,,”. Pak Yahya menggendong Novi dan melumat habis payudara Novi yang mancung itu.
“ayo Pak Dino,,mau lepas kangen juga gak?”, tanya Nita dengan wajah yang sangat menggoda.
“mau banget,,”. Pak Dino langsung menindih tubuh Nita dan mencumbui bibir Nita.
“Maya sayang, kok tadi bapak gak diajak nginep?”.
“gak usah Maya ajak,,Pak Joko juga pasti mau nginep kan?”.
“hehe,,iya,,Maya sayang tau aja,,”.
“ayo Pak Joko, mau lagi gak?”, kataku sambil mengelus-elus belahan bibir vag|naku.
“itu mah gak usah ditanya,,hehe!!”. 3 bapak-bapak itu pun melampiaskan nafsu mereka sepuas-puasnya kepada kami bertiga.
Bagai seorang istri yang baik, aku, Nita, dan Novi melayani mereka dengan sangat baik. Aku, Nita, dan Novi memberikan 3 bapak-bapak itu akses penuh 24 jam atas tubuh kami. Misalnya, aku sedang tidur, tapi Pak Joko sedang ‘ingin, Pak Joko tinggal membangunkanku dan aku akan melayani Pak Joko dengan senang hati. Begitu juga Novi dan Nita. Aku-Pak Joko, Nita-Pak Dino, dan Novi-Pak Yahya selalu bercinta dengan penuh hasrat dan nafsu yang menggebu-gebu bagai pasangan pengantin yang baru menikah hingga tak terasa sudah hari ke 7.
“May,,pulang dulu ya!”, pamit Novi dan Nita setelah membantuku membersihkan rumah yang sudah seperti tempat bulan madu bagi kami berenam karena besok orang tuaku pulang.
“Novi sayang, bapak anterin ya ampe rumah”, ajak Pak Yahya.
“boleh aja sih, tapi pasti ada upahnya?”, balas Novi.
“iya,,hehe,,”.
“ya udah,,apa upahnya?”.
“tolong angetin tongkol bapak pake mulut kamu dong,,hehe,,”.
“iya, iya,,yaudah May,,gue balik dulu ya,,daahh,,”.
“ati-ati ya Nov,,”.
“Nita sayang,,”, Pak Dino memanggil Nita dengan sangat mesra.
“apa? minta diangetin juga?”, Nita hanya berpura-pura galak.
“iya,,hehe,,”.
“ya udah,,May,,gue pulang ya,,mau karaokean di mobil Pak Dino,,”.
“hahaha,,bisa aja lo,,Nit,,yaudah,,ati-ati karaokeannya,,jangan ampe kegigit,,”. Nita, Pak Dino, Novi, dan Pak Yahya sudah pulang sehingga hanya tinggal aku dan Pak Joko yang ada di rumah dalam malam yang dingin dan sepi. Telpon rumahku berdering.
“halo?”.
“Maya,,ini Mama,,”.
“oh iya Mah,,ada apa Mah?”.
“urusan disini belum selesai jadi kayaknya Papa sama Mama baru pulang 3 hari lagi,,kamu gak apa-apa kan di rumah sendirian?”.
“ya Mah,,Maya gak apa-apa kok,,”.
“yaudah,,ati-ati ya di rumah,,daah”.
“iya Mah,,Mama juga ati-ati ya disana,,daah,,”. Begitu aku menaruh gagang telpon di tempatnya, Pak Joko langsung memelukku dari belakang.
“siapa yang nelpon?”, Pak Joko menciumi tengkuk leherku.
“Mama yang nelpon,,katanya mereka pulangnya 3 hari lagi,,”.
“berarti bapak bisa memperpanjang masa nginep di sini dong?”.
“haha,,memperpanjang? emangnya ktp,,”.
“jadi gak boleh nih,,bapak nginep lagi?”.
“tenang aja Pak,,boleh kok,,cuma Maya bingung aja,,emangnya Pak Joko gak bosen ngent*tin Maya? padahal ampe 7 hari lho?”.
“gak tau nih,,tongkol bapak gak mau pisah ama Maya sayang,,hehe,,”.
“oh,,gitu,,yaudah,,Maya buka layanan 24 jam lagi deh,,”.
“bener ya? bapak pulang nih ambil obat kuat,,biar tongkol bapak bisa ngaceng terus,,”.
“boleh,,siapa takut,,eh,,tapi Pak,,emang ada obat yang bisa 24 jam gitu?”.
“gak sih,,paling cuma 8 jam,,tapi kan jadinya gak harus nunggu dulu,,”.
“oh,,yaudah,,ambil sana,,Maya juga mau mandi dulu biar wangi lagi,,”.
Pak Joko bergegas ke rumahnya setelah selesai memakai bajunya. Sementara aku sedang asik mandi agar tubuhku wangi dan bersih lagi ketika Pak Joko kembali. Aku menyambut Pak Joko yang sudah kembali lagi dengan bugil. Aku membantu Pak Joko melepaskan pakaiannya sehingga dia telanjang.
“aduh,,Maya sayang,,badan kamu,,wanginya menggoda banget,,jadi gak sabar pengen maen suami istri lagi,,hehe,,”.
“yaudah,,yuk,,Maya udah siap,,”.
Aku dan Pak Joko bercinta dengan hasrat dan hawa nafsu yang sepertinya tak ada batasnya. 3 hari sudah berlalu, saatnya Pak Joko pulang. Aku kembali ke kehidupan normalku setelah 10 hari menjadi istri Pak Joko. 1 minggu kemudian, Pak Joko menelpon ke hpku. Aku langsung menutup dan mengunci pintu kamarku.
“ada apa Pak,,nelpon Maya?”.
“sabtu besok,,Maya sayang ada acara gak?”.
“gak ada kayaknya,,kenapa emangnya Pak?”.
“ke vilanya Pak Anton yuk,,Pak Anton udah kangen katanya,,”.
“boleh,,berapa hari?”.
“tergantung,,Maya sayang bisanya berapa hari?”.
“5 hari kayaknya, gak apa-apa kan?”.
“ya gak apa-apa lah,,kan Maya sayang yang nentuin,,”.
“yaudah,,ntar Maya yang ke rumah Pak Joko,,suruh Pak Anton tunggu di rumah Pak Joko ya,,”.
“beres deh,,sayangku”.
Hari sabtu tiba, aku pamit ke orang tuaku kalau aku akan nginep di rumah temanku. Aku berangkat ke rumah Pak Joko dengan tas yang lumayan besar karena aku mempacking pakaian untuk 5 hari.
“eh,,Maya sayang udah dateng,,ayo masuk,,”, kata Pak Joko.
“makasih Pak,,”, aku lewat di hadapan Pak Joko, Pak Joko langsung menepuk pantatku.
“halo Maya !!”, sapa Pak Anton langsung memelukku.
“alo Pak Anton,,”, balasku. Pak Anton melepas pelukannya terhadapku.
“aduh,,udah lama gak ketemu,,kamu makin cantik aja,,”, Pak Anton mencubit pipiku.
“aduh,,sakitt nih,,”, kataku sambil mengelus-elus pipiku.
“maap,,abis kangen banget,,udah 1 bulan gak ketemu,,”.
“eh,,neng Maya udah dateng,,”, Pak Edo keluar dari kamar Pak Joko.
“eh,,ada Pak Edo juga,,”.
“oh iya,,Maya sayang ngapain bawa tas gede kayak gitu?”, tanya Pak Joko.
“ya bawa baju,,masa bawa emas,,hihi,,”.
“lho,,neng Maya ngapain bawa baju? kan ntar di villa juga,,neng Maya bakal buka baju terus,,hehe”, ujar Pak Edo.
“iya sih,,tapi kan,,”.
“yaudah,,kamu bawa aja tasnya,,”, kata Pak Anton.
“sini,,biar bapak yang bawain,,”, Pak Joko langsung mengambil tasku.
“makasih,,Pak Joko,,”.
“yaudah, kita langsung berangkat aja yuk!”, ajak Pak Anton.
“yok,,”.
Pak Joko menaruh tasku di bagasi mobil Pak Anton.
“Joko,,lo yang nyetir,,gue pengen duduk di belakang ama si nona manis ini,,”, kata Pak Anton.
“gue juga,,”, tambah Pak Edo.
“ya ude,,gue yang nyetir,,”. Pak Joko langsung masuk ke dalam mobil sementara Pak Anton menyuruhku duduk di tengah. Lalu Pak Anton duduk di sebelah kananku, dan Pak Edo duduk di sebelah kiriku.
“ayo Maya,,buka baju dong,,”, pinta Pak Anton.
“kan belum nyampe vila,,masa Maya udah disuruh buka baju?”, tanyaku.
“ya abis,,kangen ngeliat body kamu,,”.
“yee dasar,,Pak Anton ama Pak Edo,,emang kangen banget ya?”.
“iya neng Maya,,kangen banget,,”.
“tapi kalo Maya buka baju di mobil ntar keliatan dong dari luar?”.
“gak kok,,mobil om pake kaca film,,jadi gak keliatan dari luar,,”.
“ya udah,,tapi bukain baju Maya ya,,kan Pak Anton ama Pak Edo yang punya keperluan,,hehe”.
“dengan senang hati,,nona manis”, jawab Pak Anton.
Dalam waktu sekejap, aku sudah telanjang di tengah-tengah 2 pria ini. Tanpa basa-basi lagi, Pak Anton langsung melahap payudara kananku dan Pak Edo menikmati sajian payudara kiriku.
“mmmhhh,,teeruusshh,,”, desahku. Tangan Pak Anton berusaha menyelip masuk melewati pahaku. Aku sedikit melebarkan kedua pahaku sehingga tangan Pak Anton langsung bisa menyelip masuk melalui celah pahaku. 1 buah jari Pak Anto sudah masuk ke dalam vag|naku sedangkan Pak Edo menggunakan jari tengahnya untuk mengelus-elus dan menekan-nekan klitorisku.
“oohhh,,”, desahku semakin kencang karena kini, 3 titik sensitifku sedang dimainkan oleh Pak Anton dan Pak Edo. Tanpa sadar, aku melebarkan kedua kakiku sebagai respon dari permainan jari Pak Anton yang terus mengocok vag|naku. Pak Anton menambahkan 1 jarinya lagi ke dalam vag|naku karena kakiku sudah terbuka lebar sehingga Pak Anton lebih leluasa mengaduk-aduk vag|naku. Payudara kananku sudah berlumuran air liur Pak Anton begitu juga dengan payudara kiriku yang sudah berlumuran air liur Pak Edo.
“oouuuhh,,”, aku mengejang dan mendesah, cairanku langsung menyemprot 2 jari Pak Anton yang menyumpal lubang vag|naku.
Pak Anton mengeluarkan 2 jarinya keluar dari vag|naku, tapi 2 jari Pak Edo langsung menyangsang di dalam vag|naku dan Pak Antonlah yang sekarang memainkan klitorisku sampai aku mengalami orgasme lagi.
“memiawnya neng Maya emang manis banget,,”, kata Pak Edo sambil menjilati 2 jarinya yang berlumuran cairanku.
“bener lo Do,,enak banget,,”, Pak Anton juga menjilati 2 jarinya sendiri.
“udah ya ngobok-ngoboknya,,lemes nih,,”, pintaku.
“yaudah,,kalo gitu,,karaokean aja,,”.
“nah,,kalo karaokean doang,,Maya siap deh,,sekarang,,keluarin adek kecilnya dong,,”.
“oke,,”. Pak Anton dan Pak Edo melepaskan celana panjang serta celana dalam mereka.
“siapa yang mau di karaokein duluan?”.
“om dulu,,”, ujar Pak Anton.
“gak,,bapak dulu,,”, kata Pak Edo tidak mau kalah.
“udah,,jangan berantem,,Pak Anton duluan,,abis itu baru Pak Edo deh,,”.
“yah,,”, Pak Edo keliatan kecewa.
“tenang aja Pak Edo, sini…dedeknya,,Maya pijetin,,”.
“wah,,okeh dah,,nyang penting dipegang ama neng Maya,,hehe”.
Aku jongkok di depan Pak Anton yang sedang duduk. Susah juga mengambil posisi untuk bersiap ‘karaokean’ di mobil, tapi aku bisa mengambil posisi yang tepat. Kini, Pak Edo duduk di sebelah Pak Anton. Aku menggenggam pen|s Pak Anton dengan tangan kiriku dan menggenggam pen|s Pak Edo dengan tangan kananku. Aku mulai menghangatkan pen|s Pak Anton dengan mulutku. Aku bersihkan pen|s Pak Anton dengan seksama hingga aku bisa meminum sirup putih kental Pak Anton. Aku menganga ke arah Pak Anton untuk menunjukkan spermanya yang tertampung di mulutku. Pak Anton menutup mulutku, aku pun menelan sperma Pak Anton.
“gimana Maya,,enak gak peju Om?”.
“enak Pak,,nah,,Pak Edo,,udah siap belom karaokean ama Maya?”, tanyaku sambil mengelus-elus kepala pen|s Pak Edo yang isinya belum kukuras. Pak Edo membuka selangkangannya lebar-lebar.
“neng Maya,,kayaknya pantat bapak gak bersih,,tolong bersihin dong,,”.
“oce Pak Edo,,”.
Tanpa ragu-ragu, aku menjilati lubang pantat Pak Edo sehingga Pak Edo langsung menggelinjang.
“neng Maya,,neng Maya,,udah cantik, bohay, mau disuruh apaan aja,,coba neng Maya jadi istri bapak,,bakal bikin anak mulu tiap hari,,hehe”.
“ah,,Pak Edo bisa aja,,Maya lanjutin ya karaokein dedeknya ama sekalian bersihin pantat Pak Edo,,”.
“iya,,yang bersih ya neng Maya,,”.
“oce,,”. Tak beberapa lama, aku sudah bisa meminum sperma Pak Edo.
“Maya,,pantatnya Om belom dibersihin,,”.
“oh,,mau dibersihin juga? yaudah,,”. Aku berpindah ke selangkangan Pak Anton lagi dan mulai membersihkan lubang anus Pak Anton. pen|s Pak Anton pun sudah berdiri lagi.
“aduh,,dedenya bangun lagi,,tolong dinina boboin lagi dong,,”.
“siap, Pak Anton,,”.
Selesai membuat Pak Anton menumpahkan isi pen|snya ke dalam mulutku untuk kedua kalinya, Pak Edo menepuk pundakku.
“neng Maya,,dede’nya bapak juga bangun nih,,tolong di nina boboin juga dong,,”.
“beres Pak,,”. Begitulah kerjaanku selama di dalam mobil, aku selalu berpindah-pindah dari selangkangan Pak Anton ke selangkangan Pak Edo dan sebaliknya.
Aku terus menina bobokan ‘adik kecil’ mereka sekaligus membersihkan lubang pantat mereka hingga akhirnya mereka sudah puas. Pak Anton menyuruhku duduk di tengah lagi. Mereka berdua memainkan vag|na dan klitorisku lagi. Akhirnya, perjalanan yang ‘melelahkan’ itu selesai, kami sudah sampai di vila Pak Anton.
“Pak Anton,,mana baju Maya?”.
“udah…gak usah pake baju lagi, vila Om kan terpencil,,”.
Pak Edo dan Pak Anton yang membawa pakaianku keluar dari mobil, Pak Anton mengambil tasku dan membawanya ke dalam vila. Aku tidak punya pilihan lain, aku keluar dari mobil tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Angin dingin langsung menyerangku, aku menggigil kedinginan. Pak Joko yang baru keluar dari mobil langsung menghampiriku.
“Maya sayang, kedinginan ya?”.
“iya Pak,,”, jawabku gemetaran.
“bapak angetin ya pake ini,,”, kata Pak Joko mengelus pen|snya.
“ha? disini?”.
“iya,,bapak udah gak nahan gara-gara tadi di mobil,,bapak cuma bisa dengar Maya sayang yang lagi keenakan,,”.
“tapi,,ntar keliatan orang,,”.
“tenang aja, kan vila Anton jauh dari keramaian,,”.
“tapi kan…”.
“ayo dong Maya sayang, sekali coblos aja,,masa tega ngebiarin tongkol bapak tegang begini?”.
“mm,,yauda deh,,mau Maya jilatin dulu nggak?”.
“wah…makasih banget,,nih,,”.
Aku jongkok dan senderan ke pintu mobil, Pak Joko menyodorkan pen|snya ke mulutku, aku langsung menyambar pen|s Pak Joko dengan mulutku. Aku ciumi seluruh bagian pen|s Pak Joko lalu aku emuti kepala pen|s dan buah zakarnya, setelah itu baru aku jilati dari pucuk kepalanya hingga ke pangkal pen|snya.
“nah sekarang udah siap nih Pak,,mau coblos dimana?”.
“di pantat aja,,bapak lagi pengen maen di tempat yang sempit banget,,”.
“oke,,”. Aku membelakangi Pak Joko, aku berpegangan pada atap mobil dan membungkukkan tubuhku.
“Maya sayang,,siap ya?”.
“siap Pak,,silahkan dicoblos,,”.
“Maya sayang emang paling pengertian deh,,”. Pak Joko menampar pantatku dengan kencang, aku hanya mengeluarkan senyum manisku saja.
“sleebb,,”, pen|s Pak Joko sudah menyelip masuk ke dalam celah anusku yang sempit.
“aduuhh,,sempiitth!”, desah Pak Joko. Pak Joko mulai memompa anusku dengan sangat bersemangat, mungkin karena nafsunya yang baru bisa tersalurkan sekarang.
“aaahhh,,”, desahku.
Kedua buah payudaraku berguncang maju mundur seiring dengan tubuhku. Pak Edo keluar dari dalam vila sehingga dia bisa melihat aku yang sedang dipompa oleh Pak Joko.
“waduh,,udah ngangetin badan aja lo,,Ko,,”.
“hehe,,iya,,”, balas Pak Joko tanpa berhenti menggenjot anusku.
“neng Maya,,neng Maya,,coba tongkol bapak masih kuat,,eh Ko,,cepetan lo,,ditungguin ama Anton,,”.
“iye,,udeh lo sono,,ganggu gue lagi maen ama bini aje,,”.
“du ileh bini lo,,neng Maya kan bini bersama,,udah ah,,gue masuk,,dingin banget,,”.
Aku dan Pak Joko pun bisa berkonsentrasi penuh lagi. 2 kali orgasme bisa memunculkan rasa hangat dari dalam tubuhku. Beberapa menit kemudian, Pak Joko menyemburkan spermanya ke dalam anusku.
“Maya sayang udah anget belum?”.
“udah Pak,,masuk ke dalem aja yuk,,takut dingin lagi,,”.
“sini,,bapak gendong,,”, Pak Joko pun langsung menggendong tubuhku.
“aduh,,Pak Joko ada-ada aja,,Maya pake digendong segala,,”, kataku manja.
“iya dong,,biar Maya sayang gak capek,,”. Pak Joko menggendongku masuk ke dalam vila.
“wah,,ini dia bini kita,,sini”, kata Pak Edo. Pak Joko menaruhku di antara Pak Anton dan Pak Edo yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.
“lo abis ngent*t ama Maya ye diluar ye Ko?”, tanya Pak Anton.
“iye,,abisnye tongkol gue panas gak kebagian di mobil..”.
“ye tapi kalau Maya sakit?”.
“ah,,gak apa-apa kok Pak Anton,,kasian tadi Pak Joko gak kebagian,,”, jawabku.
“tuh kan,,makanye santai aja ama si nona manis kita satu ini,,”, ujar Pak Joko.
“gimane? bini kite udah dateng?”, kata seseorang yang turun dari tangga.
“wah,,ada Pak Fais,,”.
“nah,,itu dia selimut kita dateng juga,,”, kata orang kedua yang turun dari tangga.
“eh,,ada Pak Parman,,”, kataku.
“dari tadi di tungguin,,dateng juga boneka kita,,”, kata orang terakhir yang turun dari tangga.
“ada Pak Roni juga,,”.
Kini, aku dikelilingi 6 om-om yang sudah sangat bernafsu melihat tubuh montokku.
“neng Maya,,main yuk,,udah kangen nih,,hehe,,”, kata Pak Fais.
“siapa aja nih yang kangen? biar sekalian aja,,”, tanyaku menggoda mereka berenam.
“bapak,,”, kata Pak Parman.
“bapak juga,,”, kata Pak Roni.
“Pak Anton, Pak Edo, ama Pak Joko gak? main bareng aja yuk sekalian,,”, ajakku.
“mau banget sih,,tapi masih capek,,”, jawab Pak Edo.
“iya,,Om juga,,”, ujar Pak Anton.
“kalo Pak Joko? biasanya gak pernah nolak?”.
“iya,,tapi bapak masih capek nih,,”.
“yaudah,,Neng Maya,,kita maen berempat aja,,”.
“yuk,,”. Kami berempat berjalan menuju ke salah satu kamar. Selama berjalan, Pak Fais, Pak Parman, dan Pak Roni iseng meremas-remas payudara serta pantatku.
“aduh,,udah gak sabar ya?”, tanyaku karena Pak Fais asik meremas-remas pantatku.
“iya,,udah lama gak pulang ke rumah,,”.
“ah,,bisa aja,,oh iya,,bentar,,Maya mau minum obat dulu,,”.
“obat anti hamil?”, tanya Pak Roni.
“iya,,”.
“nih,,tadi Anton ngasih bapak,,”.
“mau minum pake air gak?”, tanya Pak Parman.
“gak usah Pak,,langsung Maya telen aja,,”. Setelah aku minum obat, mereka bertiga menggiringku ke kamar. Mereka bertiga langsung melucuti pakaian mereka.
“wah,,tongkol bapak tau aja mau pulang ke rumah,,udah gak sabar,,hehe”.
“yaudah,,kita mulai,,”. Mereka bertiga langsung mengeroyokku, aku pun melayani mereka dengan senang hati dan terus menerus hingga akhirnya pen|s mereka sudah tidak bisa bangun lagi. Pak Fais, Pak Parman, dan Pak Roni sudah selesai melampiaskan nafsu mereka kepadaku.
“neng Maya,,kita ke bawah dulu ya,,mau ngerokok,,”, Pak Fais meminta izin. Aku hanya mengangguk dan tersenyum saja karena tenagaku belum kembali setelah dikeroyok mereka bertiga. Setelah beberapa menit beristirahat, aku ingin ke kamar mandi. Tapi, saat aku baru mau bangkit dari ranjang yang sudah acak-acakan, tiba-tiba Pak Joko, Pak Anton, dan Pak Edo masuk ke dalam kamar.
“wah,,kloter kedua udah dateng nih,,”, kataku.
“iya nih,,gak enak juga di bawah doang,,dingin,,enakan disini ama kamu,,kan anget,,hehe”, kata Pak Anton.
“yaudah,,sini,,”, kataku sambil menggerakkan jariku seperti menantang mereka bertiga untuk maju.
“cihuy,,emang neng Maya paling mantep deh,,”, kata Pak Edo.
“namanya juga si nona manis,,”, kata Pak Joko.
Service terbaik kukeluarkan pada kloter kedua hingga mereka benar-benar puas. Mereka meninggalkanku di kamar yang sangat kental dengan bau sperma dan bau persetubuhan. Tenagaku yang sudah habis membuatku tertidur dengan mudah meskipun mulut, lubang anus, dan lubang vag|naku masih belepotan sperma. Aku terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan jam 5 sore.
“ah,,mandi ah,,badan gue udah bau banget,,”.
Aku mandi untuk membersihkan tubuhku yang lengket karena sperma dan keringat. Setelah mandi, aku menyemprotkan minyak wangi ke seluruh tubuhku karena aku tau 6 om-om itu akan tambah bernafsu jika tubuhku wangi. Aku turun ke bawah untuk mencari mereka.
“wah,,lagi pada nonton bokep ya?”.
“iya nih,,sini,,Maya sayang ikut nonton juga,,”.
“oke,,”. Aku duduk dan menonton film bokep bersama 6 Om-om itu. Bayangkan saja, seorang gadis muda yang tanpa busana menonton film bokep bersama 6 Om-om yang siap menerkamku kapan saja.
“jadi mau praktekkin nih,,”. Aku langsung disergap oleh 6 pria paruh baya itu dan benar saja dugaanku, tubuhku yang wangi membuat mereka sangat bernafsu ketika menyetubuhiku secara bergiliran. Tubuhku benar-benar menjadi penghangat bagi mereka di daerah puncak yang dingin, tapi aku tidak keberatan karena pen|s mereka membuatku ketagihan. Aku kecape’an karena harus melayani 6 pria tanpa berhenti, tapi mereka mengerti sehingga mereka memutuskan untuk membuatkanku makan malam. Setelah makan malam, aku diperbolehkan memakai piyamaku, tapi piyamaku telah dimodif. Baju piyamaku dipotong tepat di dadaku sehingga payudaraku tetap saja terbuka dan celanaku juga dipotong tepat di daerah selangkanganku memanjang ke belakang hingga ke belahan pantatku.
“yah,,ini mah sama aja,,”, kataku.
“kan biar kita bisa ngeliat tempat favorit kita terus,,”.
“ye,,dasar,,om-om ini,,”.
“oh ya May,,tolong olesin ini ke tongkol kita,,abis itu lap pake anduk anget,,”.
“emang buat apa?”.
“ada deh,,”. Dengan telaten, aku mengolesi pen|s mereka berenam dengan suatu balsem lalu menutupi pen|s mereka dengan handuk hangat. 15 menit kemudian, pen|s mereka mengeras dan berdiri sangat tegang.
“hayo Maya,,tongkol kita udah keras nih,,tanggung jawab kamu,,”.
“curang nih,,kan tadi gak bilang kalau bisa kayak gini,,”.
“pokoknya tanggung jawab soalnya tongkol kita gak bisa tidur ampe 6 jam,,”.
“aduh,,begadang dong,,”.
“iya,,”.
“yauda deh,,sini semuanya,,Maya gak takut,,”.
“oke,,serang !!”.
Mereka dengan ganas menjarah tubuhku dan hari itu aku pun menjadi bulan-bulanan mereka hingga tubuh pegal-pegal dan berlumuran sperma. Aku sungguh menikmati kehidupan seksku yang liar, lain kali akan kuceritakan pengalamanku yang lain. Sampai sini dulu ya, ciao!